..........

RSS

Salah Pilihan

Rasanya selalu ingin protes kepada-Nya setiap melihat kemesraan keluarga-keluarga di luar sana. Anak-anak yang lucu dan lincah, suami istri yang mesra yang saling mencintai. Bukan sekali dua kali aku melihat pemandangan indah tersebut, sering ketika harus tugas di luar dalam perjalanan, di tempat-tempat umum bahkan dalam keluarga adik-adikku, selalu mampu menyayat hati ini yang berbuntut pada rasa iri. Ya..., aku iri pada keharmonisan keluarga mereka.
Sering aku merenung, menelusuri jejak-jejak perjalanan hidupku. Aku tak sempat melakukan hal-hal buruk. Waktuku habis dalam usaha berbuat baik pada orangtua, adik-adik bahkan pada orang lain. Tak aku dekati zina yang jelas-jelas Dia larang atau perbuatan-perbuatan yang menjauhkan keberkahan. Tapi, kenapa Dia mengujiku sedemikian berat?

***

Sore ini rumah terlihat sepi, aku tak menemui istriku disetiap sudutnya. Kemana dia? Apa dia lupa bahwa hari ini aku pulang? Segala tanya tentang keberadaannya terus meraung di benak ketika mendapati meja makan kosong tanpa ada yang tersaji. Ingin sekali segera melangkah kerumah ibu, sudah lama aku tak mengecap masakannya yang selalu membuat lidahku rindu. Namun, sebuah pesan singkat di HP mengurungkan langkahku. "Mas, hari ini pulang ya! Kerumah ya, aku tunggu!". Aku langsung merubah haluan menuju rumah Adit, adik iparku. Sempat terpikir, mungkin Yani, istriku ada di sana dan mungkin ada kejutan menyambut kepulanganku. Ahh....mustahil, selama ini tak pernah ada kejutan yang dia siapakan untukku, buru-buru kuhapus angan-angan itu.

***

"Sayang, tolong buka pintunya!" pintaku kala mendapati rumah terkunci rapat.
"Masih ingat rumah?" sahutnya dari balik pintu.
"Tentu saja, masak sama rumah sendiri lupa. Aku dari rumah Adit, ingin menjemputmu jika kamu disana."
"Bohong! Paling kamu dari rumah ibu. Sekalipun sudah beristri, kamu tetap bergelar anak mami."
Sejenak aku menarik nafas, tak menyangka kepulanganku disambut dengan kata-kata manis mengiris hati. Harus sampai kapan aku bersabar akan kekerasan sikapnya. Apapun permintaannya selalu aku penuhi, tapi tak sedikitpun ia hargai. 2 tahun pernikahan, tidak pernah sekalipun dia menjalankan kewajibannya. Setiap hari, tak ada makanan yang tersaji, bahkan untuk menyetrika bajupun harus aku lakukan sendiri.
"Malam ini kamu tidur di luar saja" lanjutnya ketika aku masih berusaha mengetuk pintu memberi penjelasan.

***

Kembali aku hirup aroma khas kamar pribadiku yang hampir 3 tahun tak pernah aku huni. Akhirnya aku menempatinya lagi. Sejenak aku ambil nafas panjang disela-sela membereskan barang-barang. Haruskah aku bahagia? Setelah beban hati ini mereka tanggalkan. Atau aku harus sedih, karena gelar baruku, duda tanpa anak. Sempat ada yang menetes dari sudut mata ketika harus membaca ikrar perceraian. Antara rela dan tak rela, namun jika terus dipertahankan, bukan hanya aku yang terluka tapi seluruh keluarga besar, terlebih ibu dan bapak. Sampai detik menjelang putusan pengadilan, tak terlihat sedikitpun etika Yani dan keluarga untuk memperbaiki segalanya. Bagi mereka uang lebih penting daripada mempertahankan ikatan suci ini.
"Perlu bantuan untuk berbenah mas?" tawaran Rina, adik bungsuku membuyarkan lamunanku.
"Kamu datang tepat waktu, Rin. Mas bingung harus mulai darimana, kalau cewek kan biasanya lebih telaten" jawabku mengiyakan tawarannya.
"Serahkan semuanya pada Rina" balasnya seraya membongkar salah satu kardus yang menggunung. "Sabar dan iklas kunci untuk menjalaninya, Mas. Inshaa Allah akan diberikan yang lebih" tambahnya.
Aku hanya membalasnya dengan tatapan lekat dan belaian lembut di kepalanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar