..........

RSS

Rica-rica Ikan Mujaer




Ikan goreng sudah biasa. Kali ini coba yang beda, dengan sedikit kuah yang agak pedas, jadilah rica-rica ikan mujaer.

Bahan:
1kg ikan mujaer, goreng setengah matang

Bumbu yang dihaluskan:

  • 5 siung bawang merah
  • 7 siung bawang putih
  • 10 cabe rawit
  • 2 buah kemiri
  • 1 ruas jahe
  • 1 ruas kunir

Bumbu pelengkap:

  • 1 ruas lengkuas
  • 2 lembar daun salam
  • 2 lembar daun jeruk
  • 1 batang serai
  • Gula secukupnya
  • Garam secukupnya
  • Minyak untuk menumis

Cara memasak:

  1. Tumis bumbu halus hingga harum.
  2. Tambahkan lengkuas, daun salam, daun jeruk dan serai.
  3. Masukan ikan mujaer dan air.
  4. Masak hingga air sedikit menyusut.
  5. Rica-rica ikan mujaer siap disajikan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Puding Jagung



Bahan:
  • 1 buah jagung manis disisir
  • 1 sachet susu kental manis
  • 1 bungkus agar-agar putih
  • 7 sdt gula pasir
  • 2 sdt tepung maizena (larutkan dalam segelas air)
  • 800 ml air
Cara membuat:
  1. Blender jagung bersama susu kental manis.
  2. Tuang jagung yang sudah diblender ke dalam panci, tambahkan agar-agar, gula, tepung maizena dan air.
  3. Masak di atas api sedang sambil diaduk terus hingga mendidih.
  4. Tuang ke dalam cetakan dan dinginkan.
  5. Sajikan dingin lebih nikmat

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gara-gara Air Mata


            Dugk ….

Aku mendengar suara kepalan tangan dan tembok beradu. Membuat ciut hati hingga membekukan air mataku yang sudah beranak sungai sejak setengah jam yang lalu. Tak berapalama, kulihat sosoknya mendekat kepintu depan dengan wajah merah padam menyimpan amarah. Tanpa kata, dia pergi.
Kini …, tinggalah aku sendiri di rumah dengan segumpal ketakutan. Aku sendiri bingung dengan keadaan yang ada, tiba-tiba begitu banyak pertanyaan yang memenuhi isi kepala. Kenapa dia marah? Kenapa dia pergi tanpa kata? Kemana dia pergi?
Sepuluh menit berlalu, setengah jam terlewati, dia tak kunjung kembali. Makin cemas, itu sudah pasti. Duduk tak tenang, tidurpun tak nyaman. Tepat satu jam. Kuraih HP dan mengirimkan pesan. “Pulanglah!”, send. Lima menit, sepuluh menit, menanti tanpa balasan. Kembali kuraih HP memecet tombol angka, calling. Satu panggilan tak dijawab, dua panggilan direject, tiga panggilan … akhirnya kudengar suaranya dari seberang entah berantah, “tidurlah dulu, pintu jangan dikunci, nanti aku pulang” tut … tut … tut, sambungan terputus.
***
Sorot mentari yang menyelinap masuk melalui celah-celah ventilasi, menggelitik mataku, terasa hangat. Berlahan kubuka mata, dan kudapati dia masih tertidur pulas di sisi kanan. Entah jam berapa dia kembali ke rumah. Pelan-pelan aku keluar kamar, takut membuatnya terbangun. Jelas, masih aku ingat raut mukanya yang membuat aku takut, namun aku lebih takut jika dia tak di rumah dalam keadaan marah.
***
Aku masih sibuk dengan pekerjaan di dapur saat dia datang membawa ice cream rasa coklat di tangan kanan dan rasa stroberi di tangan kiri.
“Mau yang rasa apa?” tanyanya dengan raut muka seperti tak terjadi apa-apa.
Sejenak kupandangi wajahnya lekat-lekat, “coklat!” 
Kuterima ice cream itu saat dia sodorkan tangan kananya. 
“Apa dia lupa ingatan?” Batinku bertanya selagi menikmati ice cream bersamanya. Kucuri-curi pandang, mencari jawaban lewat sorot matanya. Nihil, semua terlihat baik-baik saja, bahkan ada seutas senyum yang  terukir.
“Semalam kemana?” akhirnya kuberanikan bertanya demi mengikis rasa penasaran yang bergelayut di dada.
“Cari angin. Bosen denger kamu nangis mulu”
“Kenapa ga ditanya, ada apa?”
“Males! Emang kenapa semalam nangis lagi?”
“Namanya juga wanita! Kadang kala, ketika ada yang mengusik hati namun tak mampu untuk mengungkapkannya, wanita biasanya menangis.”
“O …….”
“Tapi bukan berarti cengeng ya …!” jelasku sedikit memonyongkan bibir, “itu semua hanya untuk membuat lega, sedikit memberi udara pada rongga dada yang sesak” tambahku.
“Terus, sekarang udah lega hatimu?”
“Belum!” jawabku sambil nyengir memamerkan deretan gigi yang tak rapi.
“Boleh nangis, tapi jangan sering-sering ya sayang” nasehatnya sembari mencium mesra keningku, “bukankah aku dan kamu sudah jadi kita, sudah jadi satu. Kamu bisa katakan apa yang mengusik hatimu, jika tak bisa kan bisa ditulis, tapi jangan panjang-panjang ya, males kalau harus baca cerpen” lanjutnya diiringi senyum bibir onta dan kubalas dengan pelukan mesra sebagai tanda setuju.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS