..........

RSS

A Simple View Of The Family

Sudah hampir 7 tahun saya merantau, hidup jauh dari keluarga. Pada awal merantau, rutinitas harian saya tidak jauh dari pekerjaan dan rumah kontrakan. Namun seiring waktu, kehidupan sosial saya meluas dari hanya berteman dengan orang-orang satu kampung kini saya mulai berteman dengan orang-orang dari berbagai daerah yang juga sama-sama merantau. Mungkin bener kata Iman Syafi’i “...merantaulah,kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan...”, tentu saja dengan tidak melupakan kerabat dan kawan kita dimasa yang lalu. Tidak beda dengan saya, sahabat yang begitu banyak saya dapatkan di tanah rantau ini. Bukan lagi sekedar sahabat, mereka adalah keluarga baru saya. Dari merekalah saya mendapatkan segala ilmu yang tidak kita dapatkan di bangku sekolah, ilmu tentang kehidupan.
Satu hal yang tidak bisa saya jelaskan dengan logika, sebuah cinta dan sayang yang lahir dari keluarga yang tidak punya hubungan darah dengan kita mengalir dengan tulusnya.
Salah satunya, anak perempuan berusia 4 tahun bernama “Indana Halwa Ignani”.

Setiap bertemu, peluk dan cium darinya yang tulus selalu meluluhkan hati saya. Peluknya selalu menenangkan keresahan saya dan ciumnya sebagai tanda penghargaan untuk saya. Akan selalu tercipta keceriaan ketika bermain bersamanya, gadis kecil yang selalu punya batre penuh dalam menjalini hari-harinya. Dari dia saya belajar tentang ketulusan, ketulusan memberi dan menerima cinta dan kasih sayang. Dan dari dia juga saya belajar tentang kejujuran, kejujuran dari anak kecil, sesederhana ketika mereka berkata. Semoga ALLAH selalu memberikan berkah dan rahmatNya untukmu gadis kecilku.

*keluarga bukan hanya terbatas dalam hubungan darah, tapi ketika kau sayang mereka dan mereka sayang padamu itupun adalah keluarga.*



Postingan ini saya dedikasikan untuk keluarga Bapak Feri Safari dan keluargaku di MHF.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Putri Noong

Meski sekarang kue-kue modern makin banyak tapi itu tidak menyingkirkan kue tradisional Indonesia dari lidah saya. Weekend kali ini, saya punya kesempatan untuk bikin kue “putri noong” bersama teman serumah. Dan ternyata bikinnya begitu mudah, kalian juga dapat membuatnya. Berikut saya share resepnya.

Bahan:
1. 1kg singkong parut
2. 200 gram gula
3. Pewarna makanan
4. 5 buah pisang nangka
5. 1 butir kelapa parut
6. Garam secukupnya
7. Daun pisang secukupnya

Cara membuat:
1. Kukus kelapa parut dan sedikit garam terlebih dahulu selama 20 menit, kemudian sisikan. (*kelapa parut untuk taburan)
2. Campur singkong parut dan gula sampai rata, kemudian tambahkan pewarna makanan. (*saya menggunakan pewarna merah dan hijau)
3. Ambil selembar daun pisang (*saran saya sebelum digunakan daun pisang di jemur terlebih dahulu), beri adonan singkong, pipihan. Kemudian letakan pisang nangka utuh dan tambahan adonan singkong lagi diatasnya. Bungkus dengan rapi.
4. Kukus selama 30 menit, tiriskan dan potong-potong.
5. Kue putri noong siap disajikan dengan taburan kepala parut.

Selamat mencoba!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mencicipi Kuliner Dari Brebes

Setelah perjalanan panjang menaiki dan menuruni bukit dari Bekasi ke Brebes, tibalah kami di Kecamatan Salem Kabupaten Brebes, jam sudah menunjukan pukul 7 malam dan perut berdengung-dengung menandakan lapar yang teramat lapar. Beruntung tuan rumah dimana kami menginap telah menyedikan makan malam untuk menyambut kami. Sejenak saya terkejut dengan beberapa makanan yang dihidangkan untuk kami.

1.    Menu makan malam kami
Nasi dengan berbagai macam lauk. Dari pete rebus, beralih ke lalapan daun reunde, tumis bunga bawang (karena Brebes terkenang dengan bawang merahnya, jadi daunnya dimanfaatkan untuk lauk), daging bebek, sayur paku/pakis, dan tak ketinggalan sambal terasi. Mungkin karena saya berasal dari Solo yang tidak terlalu sering makan dengan ditemani lalapan, saya mencoba lalapan daun reunde. Namun apa yang terjadi ketika saya mencoba lalapan itu? Saya tidak bisa menelan makanan, rasa lalapannya terlalu tajam, dan berujung rasa pahit di lihat. Mungkin ini karena sebuah kebiasaan, buktinya teman saya yang berasal dari daerah pasundan yang sudah familiar dengan lalapan merasa enak-enak saja dengan lalapan tersebut.

2.    Papais
Saya rasa ini satu-satunya makanan yang cocok untuk lidah saya selama berada di Brebes, “papais”. Makanan yang terbuat dari tepung ketan ini, terasa manis dan legit ketika dinikmati. Saya tidak yakin khas makanan mana papais itu, karena ketika saya pernah berkunjung ke Ciamis saya juga pernah menemukannya disana. Mungkin teman-teman ada yang bisa bantu...!

3.    Telur Asin
Mungkin dibeberapa daerah kita bisa menemukan telur asin, namun telur asin dari Brebes lebih terkenal dan lebih di akui enaknya. Terlebih lagi dengan adanya inovasi baru, “telur asin panggang”. Karena saya memiliki aleri terhadap telur, maka saya hanya berani mecicipinya sedikit (semoga tidak berpengaruh banyak). Saya akui, meski hanya mencobanya sedikit, rasanya tidak diragukan lagi. Enakkkk dan tidak amis dilidah.




Memang masih banyak kuliner dari Kota Berhias ini, namun saya hanya punya kesempatan untuk mencicipi beberapa kuliner diatas. Bagi temen-temen yang lebih banyak tahu, bisa menyarankan kuliner dari kota ini untuk saya cicipi ketika berkesempatan berada di Brebes lagi!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Si Kota Ke Desa

Bagi sebagian orang, sawah merupakan tempat yang biasa saja. Tapi, tidak berlaku untuk saya dan beberapa saudara yang lahir dan besar di kota. Sawah menjadi tempat yang istimewa untuk dikunjungi. Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke Kecamatan Salem Kabupaten Brebes. Kecamatan ini berada diujung barat daya wilayah Kabupaten Brebes. Dan untuk bisa sampai disana kita bagaikan Ninja Hatori,  mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke laut. Memang butuh perjuang, tapi ketika sampai, waw.... kami dibuat kaget dengan pemandangan disana, sangat indah.

Ternyata susah juga berjalan dipematang sawah apalagi ketika masih basah, alhasil kami justru merusaknya.Pengalaman yang superrr sekali....
Kami juga bermain air, layaknya orang yang belum pernah melihat air. Rasanya seperti bukan kami, mencoba mainan anak desa. Ternyata asyiknya melebihin arum jeram di dunia fantasi, mau lihat keasyikan! Ada videonya nich....enjoy it

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS